Minggu, 20 Agustus 2017

Penyusunan Laporan Keuangan Perusahaan Jasa (03)



 3.Owner’s Equity atau Hak  Pemilik Perusahaan 

Owner’s equity dalam suatu kegiatan bisnis merupakan sumber daya yang diinvestasikan ke dalam perusahaan oleh pemiliknya. Ekuitas dari pemilik perusahaan secara hukum disebut recidual claim, klaim sisa, sebab klaim atas kreditor harus didahulukan. Seorang pemilik persahaan, akan dijuluki pemilik yang tersisa setelah klaim semua kreditor mendapatkan haknya secara penuh yang memuaskan. Itulah sebabnya berlaku persamaan,
Owner’s equity = Assets – Liablilities. 
 Sebagai contoh pada neraca Sabrina Travel Agency, 

Sabrina memiliki total asset

300.000.000
Total Liabilities



80.000.000
Total Equitas



220.000.000

Misalnya, Sabrina Travel Agency, pinjam uang ke bank Rp.20.000.0000,- Setelah dicatat pertambahan assets sebesar Rp.20.000.000,- berupa pertambahan kas, dan telah dicatat juga tambahan liabilities sebesar Rp.200.000,- maka jumlah ownner’s equity tetap tidak berubah sebagai berikut ini.

Sabrina memiliki total asset
320.000.000
Total Liabilities


100.000.000
Total Equitas Sabrina

220.000.000

Dari contoh di atas tampak total ssets memang bertambah karena perusahaan melakukan pinjaman. Tetapi kenaikan total asssets itu disertai dengan kenaikan hutang, maka owner equity tetap tidak berubah. Owner’s equity tidak pernah akan bertambah dengan cara melakukan pinjaman dengan cara yang bagaimana pun.

Increase in Owner’s Equity
Ekuaitas pemilik pada perusahaan berasal dari dua sumber, yaitu:
1.      Investasi yang dilakukan pemilik perusahaan.
2.      Earnings yang diperoleh dari keuntungan operasi perusahaan.

Decrease in Owner’s Equity
Bagi perusahan perseorangan, mengambil uang tunai milik perusahaan atau withdrawals, merupakan hak pemilik perusahaan. Tetapi jika pemilik perusahaan ingin berhasil mengembangkan perusahaannya, dia harus berusaha keras menghalangi kebiasaan melakkukan withdrawals. Bentuk withdrawls yang lain misalnya dengan cara mengambil asset perusahaan selain kas untuk keperluan pribadi. Pemilik perusahaan perorangan, di mana saja sering melakukan withdrawals dengan menarik uang tunai untuk kepentingan pribadi. Setiap wihtdrawls akan mengurangi total assets dan owner’s equity. Dapat disimpulkan, bahwa penurunan owner’s equity disebabkan oleh dua hal, yaitu:
1.      Withdrawls atau pengambilan uang tunai oleh pemilik perusahaan.
2.      Losses atau rugi yang timbul karena perusahaan tidak menghasilkan profit.[]

Sabtu, 19 Agustus 2017

Penyusunan Laporan Keuangan Perusahaan Jasa (02)



Konsep Entitas Bisnis.
Standar akuntasi Keuangan menetapkan bahwa seperangkat ikhtisar keuangan harus menggambarkan kejadian-kejadian dari entitas bisnis yang bersifat specifik. Konsep ini disebut entity principle atau prinsip entitas.

Entitas bisnis adalah suatu unit ekonomi  yang harus diperlakukan sebagai suatu unit aktivitas bisnis dengan identitas tersendiri. Untuk tujuan akuntansi, entitas bisnis harus dipandang sebagai unit tersendiri yang terpisah dari kepentingan pribadi pemilik perusahan. Sebagai contoh, Aurora sebagai pemilik perusahaan, mungkin memiliki mobil, rekening pribadi, rumah, tanah, dan perusahaan bisnis lainnya. Semua butir kekayaan itu, tidak ada hubungannya dengan Perusahaan Sabrina travel Agency. Oleh sebab itu butir-butir kekayaan Aurora itu tidak muncul dalam daftar asset Sabrina Travel Agency. Dalam prakteknya, sebenarnya sering tidak mudah menentukan batas-batas entitas bisnis pada perusahaan milik perseorangan, sehingga terkadang diperlukan suatu keputusan yang bersifat arbiter. Kesulitan akan timbul jika pasangan suami istri pemilik entitas bisnis tinggal disatu gedung tempat kegiatan bisnis dijalankan. Apabila kepentingan pribadi pemilik perusahaan dicampuradukkan dengan kepentingan perusahaan, ikhtisar keuangan yang dilaporkan akan gagal melukiskan dengan tegas posisi keuangan dan hasi-hasil operasi yang berhasil dicapai organisasi bisnis itu.

 1.Assets
Assets adalah sumber daya ekonomi yang dimilki oleh entitas bisnis dan diharapkan akan memberikan dari kegiatan operasi, keuntungan di masa depan. Assets boleh jadi secara definitif memilki bentuk fisik seperti tanah,gedung, mesin dan peralatan. Namun ada juga asset yang tidak berbentuk fisik atau tangible assets,. Contoh asset non fisik atau intangible asset adalah hak atau claim yang secara legal memilki nilai, penghargaan yang didapat dari consumen, dan hak cipta dan hak paten. 

Salah satu persoalan paling mendasar dan juga paling kontroversial pada waktu yang bersamaan adalah penentuan nila asset dalam  neraca. Standar Akuntansi Keuangan dan Prinsip akuntansi yang diterima secara umum, sampai sekarang masih menegaskan bahwa penialan atas asset dalam neraca harus didasrkan atas cost dan tidak atas penaksiran dari harga pasar asset. Prinsip akuntansi yang sangat specifik membeikan dukungan pada cost sebagai basis melakukan valuation atas asset dalam neraca, akan kita diskusikan di bawah ini.

Prinsip Harga Perolehan atau Historical Cost Priciples.
Assets seperti tanah, gedung, persedian barang dagangan, mesin dan peralatan, merupakan jenis-jenis dari banyak sumber daya ekonomi yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan dan suatu aktivitas bisnis. Pandangan akuntasi yang tersebar luas adalah bahwa asset harus dicatat atas dasar cost. Jika kita mengatakan bahwa suatu asste ditampilkan dalam neraca atas dasar harga perolehannya atau atas dasar historical cost, maka yang kita  maksud itu adalah jumlah rupiyah yang telah kita keluarkan untuk mendapatkan asset itu. Tentu saja jumlah harga perolehan itu bisa berubah apa bila kita ingin membelinya sekarang dengan harga pengganti atau replacement cost.

Sebagai contoh, suatu entitas bisnis membeli sebidang tanah untuk didirikan bangunan di atasnya, dengan harga Rp.100.000.000,- dibayar tunai. Jumlah yang dicatat dan dimasukkan ke dalam cacatan akuntansi adalah nilai asset sebesar haga perolehannya, yaitu Rp.100.000.000,-. Jika kita asumsikan terjadi perkembangan pesat dalam bidang pasar rea eatate, dan ternyata sepuluh tahun kemudian dengan perkiraan yang jujur, adil dan obyektif,  nilai jual tanah telah meningkat jadi Rp.250.000.000,-  Namun demikian, sekalipun harga pasar atau nilai ekonomi dari tanah telah naik secara luar biasa. Nilai akuntansi yang dicatat dalam catatan akuntansi dan ditampilkan dalam neraca, akan tetap tidak berubah dengan harga perolehan sebesar Rp.100.000.000,-. Kebijakan akuntansi untuk asset atas dasar harga perolehan ini, disebut prinsip cost dalam akuntansi. 

Dalam membaca neraca, sangat penting untuk diingat dalam hati, bahwa nilai uang dari asset yang tercantum dalam neraca, tidak menunjukkan harga jika assets itu dijual atau juga tidak menunjukan harga pengganti atau replacement cost yang harus dibayar jika aset itu harus diganti dengan asset yang sama. Kesimpulan penting dari penjelasan ini adalah, bahwa neraca tidak menunjukka berapa banyak kekayaan suatu entitas bisnis.

The Going concern assumption.
Sering dipertanyakan apa sebab akuntan tidak merubah catatan dari nilai asset berkaitan dengan nilai pasar yang berlaku dari sejumlah properti yang dimiliki entitas bisnis? Salah satu alasan adalah bahwa tanah dan bangunan itu dijadikan bangunan rumah produksi untuk digunakan, bukan untuk dijual. Kenyataannya memang asset seperta tanah dan bangunan yang digunakan untuk produksi itu tak dapat dijual tanpa mengakibatkan bangkrutnya entitas bisnis. Neraca dari aktivitas bisnis, memang dipersiapkan dengan asumsi bahwa bisnis adalah suatu perusahaan yang terus menerus menjalankan usahanya, suatu going concern.Sebagai konsekwensi, harga perkiraan terbaru tanah dan bangunan yang lebih tinggi apa bila dijual sekarang, adalah kurang penting dibandingkan jika properti itu dimaksudkan terus digunakan menjalankan kegiatan usaha.

Obyectivity Principle.
Alasan lain dari digunakannya harga perolehan dari pada harga pasar yang berlaku perlakuan akuntansi atas assets adalah kebutuhan adanya ketentuan dan fakta sebagai dasar penilaian assets. Akuntan menggunakan istilah obyective untuk menggambarkan penilaian asset yang secara faktual dapat diverifikasi oleh seorang ahli yang independent. Sebagai contoh, jika tanah yang tercantum dalam neraca dicatat atas dasar cost, setiap auditor CPA yang akan melakukan audit akan dapat  menemukan evident atau bukti yang obyektif, bahwa tanah benar-benar telah dinilai secara nyata berdasarkan harga ketika tanah iitu dibelinya. Di samping itu, nilai pasar asset atas dasar perkiraan,  seperti nilai tanah , gedung, dan mesin, bukan nilai faktual dan obyektif. Nilai pasar secara konstan akan selalu berubah. Dan perkiraan harga bahwa assets dapat dijual sebagian besar adalah  masalah pendapat yang bersifat pribadi atau semata-mata hanya dugaan saja. 

Pada tanggal asset dibeli, harga perolehan dan harga pasar sama besarnya. Jalan keluar untuk memperlakukan kedua harga, yakni harga perolehan dan harga pasar dalam rangka membantu kepentingan pembeli, pernah di usulkan. Tapi dalam perjalanan waktu, tampaknya nila pasar yang berlaku, kembali ditinggalkan. Dan para akuntan cenderung kembali kepada gagasan historical cost yang harus ditampilkan dalam catatan akuntansi pemilik entitas bisnis. 

The Stable-Dollar Assumption
Kasus di Amerika Serikat dibawah ini perlu menjadi perhatian untuk melengkapi pemahaman tentang nilai uang sebagai alat ukur assets dalam ikhtisar keuangan. Sejumlah inflasi pernah melanda sejumlah negara, tidak terkecuali Amerika Serikat. Pengaruh inflasi terhadap harga barang yang begitu nyata telah menimbulkan keraguan sangat serius terhadap keakuratan konvensi atas dasar basis cost dalam akuntansi untuk assets. Ketika inflasi begitu bergejolak, penilaain atas assets berdasarkan historical cost dengan mudah dapat dipahami, telah kehilangan nilai relevansinya sebagai basis untuk pengambilan keputusan. Telah banyak pertimbangan diberikan agar supaya neraca dapat menunjukkan nilai assets atas dasar current appraisal value (harga perkiraan yang berlaku) atau replacement cost ( harga pengganti) dari pada harga perolehan (historical cost).

Tetapi para akuntan di Amerika tetap setia pada akuntansi atas dasar cost basis, dengan konsekwensi menganggap bahwa satuan dollar adalah mata uang sebagai alat pengukur yang stabil, seperti halnya gallon, mile, yard, feet, dan lainnya lagi. Anggapan prinsip atas dasar cost dengan anggapan nilai mata uang dollar stabil, bekerja sangat baik pada periode ketika harga-harga cukup stabil. Tetapi memang kurang memuaskan ketika inflasi menggila. Sebagai contoh, jika perusahaan membeli tanah 20 tahun yang lalu, seharga $ 100.000,- lalu membeli lagi tanah yang luas dan tempatnya berdekatan nyaris sama, tahun ini dengan harga $500.000,-  maka total cost dari tanah yang tercantum dalam neraca adalah $600.000,-  Perlakuan ini mengabaikan fakta bahwa dollar yang dibelanjakan pada 20 tahun yang lalu itu memiliki daya beli yang lebih besar dari pada sekarang. Dengan demikian sebenarnya angka $600.000,- untuk cost nilai tanah, merupakan campuran dari dua jenis dollar dengan daya beli yang berbeda. 

FASB pernah melakukan uji coba mengijinkan sejumlah perusahaan besar menerbitkan laporan keuangan yang dilampiri ikhtisan keuangan atas dasar harga pasar yang berrlaku atau repalcement cost sebagai supplement laporan keuangannya. Tetapi setelah berjalan beberapa tahun ternyata diperoleh fakta bahwa beaya  untuk mengembangkan dan mengungkapkan informasi semacam itu dalam ikhtisar keuangan, lebih mahal'dan-tidak-sebanding dengan manfaat-yang-diperolehnya.. Akhirnya uji coba dihentikan. Dan sampai sekarang assumsi dollar sebagai mata uang yang stabil di-kalangan akuntan,  tetap berlaku hingga sekarang. Barang kali sampai muncul tantangan inlfasi yang tak dapat ditanggulangi di masa depan.

2.Liabilities
Liabilities adalah hutang. Hampir semua pelaku bisnis menaruh perhatian kepada liabilities, sekalipun bagi perusahaan besar. Bahkan perusahaan yang berhasil merasa nyaman jika membeli barang secara kredit dari pada secara tunai. Liabilities yang timbul karena barang dan jasa yang dibeli secara kredit, disebut account payable atau hutang usaha. Orang atau perusahaan pemilik account payable disebut kreditor.

Perhatian para pebisnis terhadap liabilities, timbul dari keinginan untuk meminjam uang sebagai sarana pemasok dana investasi bagi pemilik perusahaan, sehingga perusahaan itu dapat tumbuh dan berkembang dengan pesat. Peminjam dana, misalnya bisa menggunakan dana pinjaman untuk membeli barang-barang dagangan untuk dijual kembali, sehingga menghasilkan laba.  Atau bisa juga peminjam menggunakannya untuk membeli dan menambah mesin-mesin baru, sehingga akan meningkatkan kapasitas produksi, dan menghasilkan produk dengan harga jual yang lebih rendah dan kualitas lebih baik.

Apabila seorang pebisnis meminjam uang dengan berbagai alasan, maka liabilities akan timbul, dan pihak yang meminjamkan uang akan berposisi sebagai kreditor. Format yang harus disiapkan  dan diproses apabila seseorang meminjam uang disebut Note Payable atau Wessel Bayar. Note payable atau wesel bayar adalah format yang berisi janji peminjam uang untuk membayar pinjamannya bila kelak telah jatuh tempo. Janji itu pun masih disertai kesanggupan untuk membayar bunga pinjaman pada bila pinjaman telah jatuh tempo.

Note payable atau wesel bayar harus dibedakan secara tajam dengan account payabble atau hutang usaha. Hutang usaha tidak perlu dibuatkan format perjanjian untuk membayar, dan tidak harus membayar bunganya. Sebab hutang usaha timbul dari pembelian barang dagangan secara kredit yang harus dilunasi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama, misalnya satu bulan. Hutang usaha sebenarnya adalah kredit yang diberikan oleh pedagang kepada pembeli yang jadi langganannya. 

Jika pelaku bisnis memiliki dua jenis liabilities, note payable dan account payable, kedua jenis liabilities itu harus ditampilkan secara terpisah dalam neraca. Note payable, harus didahulukan dari account payable. Kreditor memiliki klaim atas assets secara umum, bukan secara khusus. Klaim kreditor adalah kewajiban perusahaan, dan kreditor punya prioritas atas klaim uang yang dipinjamkannya kepada pemilik perusahaan. Kreditor wajib dilunasi pinjamannya, sekalipun perusahaan itu hancur, bangktut, atau pun bubar. Bahkan sekaliun si pemilik perusahaan sudah tidak punya aset sama sekali.[]

Jumat, 11 Agustus 2017

Penyusunan Laporan Keuangan Perusahaan Jasa (01)



Financial statement atau ikhtisar keuangan disampikan bukan saja kepada pihak manajemen, tetapi juga diperkenalkan kepada publik supaya diperoleh gambaran yang obyektip mengenai posisi keuangan dan profitabilitas perusahaan. Ikhtisar keuangan itu yang panjangnya bisa kurang dari satu halaman, merupakan ringkasan dari beribu-beribu transaksi yang dicatat selama satu tahun dalam sistem akuntansi perusahaan. Dengan demikian ihktisar keuangan merupakan produk akhir dari proses akuntansi perusahaan. Para pelajar dan mahasiswa yang ingin dengan mudah memahami karakteristik dan isi dari ikhtisar keuangan, akan berada pada posisi yang benar dan baik apa bila dia mulai dengan mempelajari cara-cara mencatat dan mengklasifikasikan data transaksi bisnis.

Tiga komponen dari ikhtisar keuangan yang luas dikenal publik adalah neraca atau banance sheet, laporan laba-rugi  atau lapaoran pendapatan, atau income statetmen. Dan yang trakhir adalah laporan arus kas atau statement of cash flows. Neraca atau balance sheet, sering disebut juga financial posisition atau posisi keuangan. Disebut demikian, karena neraca mengandung tiga komponen penting, yaitu asset, liabilities dan owner’s ekuity. (Harta, Kewajiban, dan Ekuitas).

1.1    Balance Sheet atau Neraca.
Tujuan dari penyunan neraca adalah untuk menunjukkan posisi keuangan dari suatu entitas bisnis pada suatu tanggal tertentu. Tiap perusahaan ada yang menyusun neraca setiap bulan, tiga bulan, enam bulan, dan setiap akhir tahun. Dan menerbitkannya tiap empat bulan, enam bulan, atau bahkan hanya setiap tahun, sesuai dengan kepentingannya masing-masing.
Neraca berisi daftar assets, liabilitis, dan owner’s ekuity dari perusahaan. Tanggal neraca sangatlah penting, karena neraca mencerminkan posisi keuangan pada tanggal itu. Dan posisi keuangan itu besar kemungkinan akan cepat berubah. Karena itu neraca memberikan gambaran posisi keuangan perusahan yang paling mutahir. Di bawah ini contoh dari balance sheet Perusahaan Sabrina Travel Agency, yang menggambarkan posisi keuangan pada tanggal 31 Desember 2014.Semua angka dalam ribuan upiyah. Arinya Kas dengan angka Rp.22.500 harus dibaca Rp.22.500.000,- ( Kas dengan angka dua puluh dua ribu lima ratus, harus dibaca dua puluh dua juta lima ratus ribu rupiyah). 



Perhatikan baik-baik Neraca Perusahaan Sabrina Travel Agency di atas. Pertama adalah judul neraca. Pada judul tercantum tiga kalimat, (1) Nama entitas bisnis, (2) Nama Ikhtisar Keuangan, (3) Tanggal neraca atau tanggal balance sheet. Kedua, kerangka neraca terdiri atas seksi yang terpisah, yaitu assets, liabilities, dan owner’s equity.

Perhatikan, bahwa cash menduduki peringkat paling atas dari daftar assets, kemudian disusul dengan Notes receivable, Accounts receivable, supplies, dan assets lain yang paling mudah dikonversi menjadi uang tunai atau cash, dan yang mudah habis atau mudah dikonsumsi dalam kegiatan operasional menjalankan usaha. Assets yang mudah dikonsumsi dan mudah diubah menjadi uang tunai, disebut assets yang liquid. Setelah dicantumkan asset yang likuid, disusul dengan mencantumkan daftar asset yang permanen, seperti tanah, gedung, mesin dan peralatan. Liabilities ditampailkan dalam daftar neraca lebih dahulu dari owner’s equity. Tiap jenis liabilities seperti notes payable, accounts payable, dan salary payable, disusun secara terpisah , diikuti dengan kalimat total liabilites. Akhirnya, perhatikan bahwa jumlah total asset (Rp.300.000,-) harus sama dengan jumlah total liabilities dan owner’s equity. Hubungan total assets dengan total liabilities dan owner’s equities  yang harus selalu sama, bersifat peranen. Kesamaan dari kedua total itu, yang menyebabkan ikhtisar keuangan ini disebut dengan neraca atau bakance sheet.[]